Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengapresiasi capaian program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (Gerak Syariah) 2026 yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan. Menag menilai, perputaran ekonomi selama Ramadan hingga Idulfitri memiliki kontribusi signifikan terhadap penguatan ekonomi masyarakat, khususnya di tingkat akar rumput.
Hal ini disampaikan Menag dalam keynote speech pada Puncak Penutupan Gerak Syariah 2026 di Gedung OJK Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/).
Menurutnya, aktivitas ekonomi selama Ramadan mencakup berbagai dimensi, mulai dari peningkatan sedekah, zakat, konsumsi masyarakat, hingga mobilitas sosial melalui tradisi mudik.
“Ekonomi Ramadan itu memiliki banyak dimensi dan pergerakannya sangat dinamis. Salah satu yang paling terasa adalah momentum mudik, ketika terjadi aliran dana dari kota ke desa,” ujar Menag.
Ia menjelaskan, pergerakan masyarakat saat mudik turut mendorong aktivitas ekonomi di daerah. Belanja masyarakat, perbaikan rumah, hingga kegiatan sosial keagamaan menjadi bagian dari dampak ekonomi tersebut.
“Perputaran ekonomi selama Ramadan dan Idulfitri berkontribusi pada peningkatan aktivitas ekonomi di desa, baik melalui konsumsi rumah tangga maupun kegiatan sosial masyarakat,” jelasnya.
Untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat, Kementerian Agama telah mendorong optimalisasi peran masjid sebagai titik layanan bagi pemudik. Sebanyak 6.859 masjid di berbagai jalur mudik difungsikan sebagai posko layanan berbasis komunitas.
Menag menyampaikan bahwa inisiatif tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. “Pengelola masjid berpartisipasi aktif menyediakan fasilitas istirahat, layanan ibadah, serta dukungan sederhana bagi pemudik. Ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Gerak Syariah 2026 yang digagas OJK mencatat peningkatan signifikan dalam literasi dan inklusi keuangan syariah. Program ini berhasil menjangkau jutaan masyarakat serta mendorong pertumbuhan penghimpunan dana di sektor keuangan syariah.
Menag menilai capaian tersebut sebagai fondasi penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional. “Peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah perlu terus diperkuat agar memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koperasi RI sekaligus Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah, Ferry Juliantono, menekankan pentingnya menghubungkan momentum Ramadan dengan pengembangan sektor riil.
Menurutnya, penguatan literasi keuangan perlu diiringi dengan pemberdayaan pelaku usaha, khususnya UMKM dan industri halal di daerah.
“Momentum ini perlu dioptimalkan untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif, termasuk melalui penguatan UMKM dan pengembangan industri halal,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai inisiatif yang tengah dikembangkan diarahkan untuk memperluas akses pasar bagi produk lokal serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi produktif.
Menag berharap, dinamika ekonomi selama Ramadan tidak berhenti sebagai fenomena musiman, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi syariah yang berkelanjutan.
“Momentum Ramadan perlu dikelola secara sistematis agar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
